Membebaskan Perempuan dari Rentenir dan Kemiskinan

Kaum perempuan adalah penduduk mayoritas di negeri ini. Namun ironisnya, mayoritas perempuan dalam posisi ekonomi yang tidak menguntungkan karena kemiskinan. Ya, kemiskinan membuat perempuan Indonesia terjerembab dalam berbagai permasalahan pelik.

Bahkan tak jarang mereka harus terjerat rentenir alias lintah darat hanya gara-gara ingin memenuhi kebutuhan pokoknya. Belum lagi dengan aspek ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang bisa dipastikan terabaikan karena ketiadaan uang.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Untuk mengatasinya, dibutuhkan program yang jelas dan terarah untuk memberdayakan kaum perempuan, baik dari pemerintah maupun kalangan swasta. Dalam konteks ini, dunia swasta memang memegang peran yang sangat penting dan

Oleh : Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita

Cakrawala Baru Keuangan Mikro

Asia Pasific Regional Microcredit Summit (APRMS) atau Bali Summit, di Nusa Dua, Bali, telah berlangsung dengan sukses dari tanggal 28-30 Juli 2008. Dari 1111 pendaftar, yang hadir dalam acara ini berjumlah 916 peserta, di mana 30 %-nya berasal dari Indonesia sedangkan 70%-nya terbagi di antara 59 negara.

Di antara yang hadir tampak Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006. Selain itu, peserta didominasi oleh warga Asia Selatan, kebanyakan dari tiga negara, yaitu India, Pakistan, Bangladesh. Ada apakah gerangan? Ternyata Keuangan Mikro yang menggemparkan jagad politik dunia, berkembang pesat di negara-negara Asia. Selain karena kantong kemiskinan masih banyak di

Oleh : Bina Swadaya

Belajar dari Petani Tetangga

Saling belajar di antara sesama pelaku pertanian berkelanjutan adalah salah satu cara untuk merajut kebersamaan dan kekuatan, serta saling memberi semangat di antara pelaku pertanian berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, regional, dan Internasional.

Masipag, organisasi para petani dan ilmuwan di Filipina yang bergerak di bidang pertanian berkelanjutan dengan ribuan petaninya yang sudah menerapkan pertanian berkelanjutan, menjadi pilihan Bina Desa sebagai tempat yang tepat untuk studi banding, di samping karena karakteristik wilayahnya mirip dengan kondisi di Indonesia.

Belajar dari petani di negara tetangga ini mempunyai beberapa tujuan, di antaranya menambah keyakinan dan semangat petani untuk terus mengembangkan

Oleh : Bina Desa

Business Unit of LPPSE

LPPSE develops Division/Unit of Business or BDC that it has vision to empower community and its intuition, in order to play role in development and to have capacity to solve environment problem through developing their potential and existing resources.

BDC-LPPSE has several activities by developing LPPSE’s potential to set up business as a part of institution’s fund rising with professional and commercial approach to cut dependency against funding agency or donor. LPPSE together with community make an innovation and find alternative solution to solve environment problem faced by community in Jakarta. Recently BDC - LPPSE develops program with

Oleh : LPPSE

Bina Arta Swadaya, IT and Business Development Center for Cooperatives

Bina Arta Swadaya is a holding company under Bina Swadaya Group, focusing on micro-finance to serve the poor and marginal in Indonesia. As a holding company it owns and coordinates some business units within its structure.

Two kinds of entities are operating within the operation of micro-financing: BPR or Rural Banks and Micro Finance Branches, or non bank microfinance. These two models are tools complement each other in serving the poor, especially women. BPR as small size bank operates as bank, authorized to mobilize funds from the public how much ever it can manage. However, in lending the

Oleh : Bina Arta Swadaya

Jumlah Halaman
| 1 |